Perantau, kenangan dan hal-hal yang dibawa pulang

Iklan Semua Halaman

Perantau, kenangan dan hal-hal yang dibawa pulang

Kamis


Picture Source : Merdeka.com


Lebaran sebagai momen penting untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga sudah berakhir, para perantau yang beberapa waktu sebelumnya berbondong-bondong pulang kampung sekarang sudah mulai kembali ke kota menuju tempat mencari nafkahnya masing-masing. Kampung dan desa-desa mulai ditinggalkan, kehidupan mulai berjalan sebagaimana biasa, ibu dan bapak kembali menyapa sawah, mesin-mesin jahit mulai dioperasikan, anak-anak sekolah sibuk mempersiapkan semester baru, jumlah warga yang memilih kehidupannya didesa kembali pada hitungan seperti sediakala, kecuali ditambah kelahiran dan dikurangi kematian.

Sebagai perantau hal terberat yang harus dijalani dari tradisi mudik lebaran adalah bukan bagaimana berjam-jam diperjalanan atau biaya mudik lebaran dan segala aktivitasnya yang lumayan membuat kantong meringis tetapi bagaimana kembali meninggalkan kampung halaman dan kembali tidak menatap wajah kedua orang tua berhari-hari begitu membuat haru, lebih berat dari segala berat yang dikalimatkan apapun.

Hampir setiap tahun saya mempunyai kesempatan mudik dua kali atau tiga jika angka-angka dikalender bersahabat, ketika saya memperoleh kalender baru diawal tahun dari kantor maka hal pertama yang akan saya lihat adalah disposisi angka berwarna merah yang berdempet dengan hari-hari yang menunjukan akhir pekan. Maka kesempatan mudik atau bisa juga disebut berlibur adalah kesempatan yang langka dan patut disyukuri.

Ketika mudik ada baiknya menyempatkan berkunjung ketempat-tempat dikampung, mengunjungi pasar atau sekedar singgah dirumah teman. Maka tidak apa-apa jika mendadak banyak ingatan muncul dikepala. Wah, dulu aku sering makan disana, wah dulu sering melewati jalan ini, wah dan wah wah lainnya beradu menjadi kenangan yang mungkin tak akan hilang. Kampung halaman, seberapapun sering ditinggalkan, kenangan selalu tahu tempatnya pulang.

Saat orang ramai mudik, masyarakat bisa dengan mudah menilai kondisi kehidupan seseorang dengan hanya melihat apa yang dibawanya pulang. Ketika seseorang mudik menggunakan kendaraan mobil maka pemudik akan dianggap sukses dan berbahagia, tidak begitu dengan pemudik yang datang hanya mengenakan motor yang dianggap sudah biasa, Jika seseorang mudik dengan membawa pacarnya maka dengan mudah pemudik dinilai sudah menemukan jodohnya dan berbeda ketika pemudik hanya datang sendiri maka dengan jurus “pukulan kunyuk melempar buah” seperti dalam Wiro Sableng, keluarga dan warga sekitar menyerang dengan pertanyaan “kamu kapan ?”, saya tidak bisa membayangkan apa yang digunjingkan orang tentang bagaimana nasib pemudik yang pulang tidak menggunakan kendaraan pribadi apapun dan tidak membawa seorang pacar.

Padahal lebih dari menyoal hal-hal yang dibawa seorang perantau pulang, dipunggungnya tertumpuk rindu yang tertahan ingin dibawa pulang. Perantau, Ia pulang membawa rindu untuk disampaikan.